windchimes ([info]kangbayu) wrote,
@ 2004-07-14 13:40:00
Previous Entry  Add to memories!  Tell a Friend!  Next Entry
Perhaps
Perhaps we don't realize that it's hard to find a decent praying space for us moslem to pray in Jakarta's commercial places. Be it shopping centres, commercial places, office buildings, etc.

Perhaps we don't mind a damp and hot room to pray, aside from the fully aircon-ed commercial spaces.

Perhaps our daily religious activities doesn't mean alot to the premise's owners... perhaps it's also due to our lack of self-respect.

But if we're going to spend some valuables at those places, and more if we're regulars, shouldn't we ask for a better service too? What are our bargaining position in this?

Anny comments? I'd like to research more on this issue...



(Post a new comment)


[info]ardian
2004-07-14 03:50 am UTC (link)
mungkin kalo orang-orang kaya yang belanja itu atau bos-bos yang jadi direktur di bangunan-bangunan megah tersebut pada rajin sholat, bisa jadi keberadaan mushola akan diperhatikan.
Karena pengelola bangunan nggak ingin kenyamanan mereka melakukan aktivitas terganggu gara-gara harus sholat di mesjid yang jauh, yang artinya pendapatan mereka mungkin akan menjauh juga.

Karena sudut pandang untung dan gak untung itulah, barangkali.
Moreover, mereka pengelola bangunan harus hemat space sekecil mungkin agar bisa menghasilkan uang dan mereka juga harus menghemat air yang biasanya banyak habis karena aktivitas wudhu.
Itu pendapat saya kang.

(Reply to this)

See Malaysia
(Anonymous)
2004-07-14 07:48 am UTC (link)
Maybe they should emulate Malaysia being a Muslim country. Every building - be it commercial or corporation or public, a "surau" (prayer room) is compulsory to be incorporated.

(Reply to this) (Thread)

Re: See Malaysia
[info]kangbayu
2004-07-16 12:48 am UTC (link)
I hope this kind of rule will be endorsed in Indonesia too =)

(Reply to this) (Parent)


[info]fortheblossom
2004-07-14 09:24 pm UTC (link)
Bisa jadi, karena pengelola, arsitek, design n kontraktor bangunannya bukan muslim. Jadi mereka ga tau (atau ga mao tau?!) apa kebutuhan konsumen muslim yang bertandang ke gedung itu.

Terkadang kita merasa dinomor 2kan di negeri sendiri. Tapi bisa jadi itu salah kita juga, karena ga ada aturan yang jelas terhadap konstruksi, fungsi n tata letak bangunan yang mana mengharuskan adanya ruangan yang layak (untuk sholat misalnya) bagi para konsumen di gedung tersebut.

Kaya di kantorku aja, kalo mo sholat di ruangan gudang, bareng server n fotokopi. Kalo tu mesin lagi ngadat n lagi dibongkar, terpaksa kita2 yang pada mo sholat ngungsi ke Ruangan tangga darurat (kebayang ga betapa kotor n penggapnya?!). Ga hanya itu, tetangga2 sebelah kantorku juga pernah ngomong hal yang sama (sholat di ruang yang sempit atau di tangga darurat).

(Reply to this) (Thread)


[info]ardian
2004-07-15 07:46 am UTC (link)
hmm pengalaman saya ketika di jakarta dulu, sholatnya di gudang, tempat arsip, tapi nyaman banget karena berkarpet woll dan ber ac. Malah kadang-kadang tempat orang tidur.
Tapi kalo sudah ada aktivitas biasanya pada mengungsi ke fire escape (tangga)

(Reply to this) (Parent)(Thread)


[info]fortheblossom
2004-07-15 07:38 pm UTC (link)
Masalahnya sekarang adalah gudangnya bener2 full of stuff n yang tersisa space-nya seukuran sejadah doang (kebayang ga gimana sempitnya??). Boro2 buat bo2 :P.
Aku sih ga masalah sholat di mana, asal bersih. Karena yang penting niatnya. Tapi boleh dong berharap kenyamanan..

(Reply to this) (Parent)


[info]kangbayu
2004-07-16 12:52 am UTC (link)
Kembali ke: gimana suara kita sebagai orang Muslim? Kalau kita selalu terima apa adanya, tentu dikasi apapun terima... Tapi kalau ummat Muslim berani bersuara, sehingga hal ini dianggap keharusan dan ditunjang oleh peraturan dari pihak berwenang, tentu akan beda ceritanya...

(Reply to this) (Parent)


[info]honeymantou
2004-07-14 10:40 pm UTC (link)
Sebelumnya, pingin nanya. Kalo sholat itu harus dilakukan di ruang tertentu (harus surau, musholla, dll) atau bisa in any kind of room? I mean, misalnya kita punya ruang kantor sendiri dan sholat di situ, apakah itu mempengaruhi sesuatu?

Memang ya, kalau untuk Muslim yang ada praying time 5 kali sehari sepertinya dibutuhkan 'ruang khusus' atau paling tidak difasilitasi. But, berkaitan dengan pertanyaan di atas, kalau memang bisa dilakukan di manapun, apakah keberadaan ruang2 dimaksud 'wajib' ada? (belum sampai ke faktor kenyamanannya, lho).

Setuju sama pendapat bahwa mestinya di Indonesia ada peraturan tata bangunan untuk kebutuhan2 khusus & spesifik: mulai dari ruang menyusui untuk ibu2, fasilitas untuk disabled people, dan religious matters. But, considering the fact that Indonesia is not Malaysia (read: it's not a Muslim country, though muslim population is majority), begitu ada aturan untuk selalu membuat musholla/surau, apakah agama2 lain tidak membutuhkan fasilitas serupa (walaupun tidak 5 kali sehari, tapi agama lain juga punya kebiasaan 'pray')? Setau aku, di beberapa public buildings di US, misalnya Rumah Sakit, mereka punya praying room. Tapi nggak jelas juga itu buat agama apa.

Menurut aku sih, kalaupun bisa diusahakan tiap bangunan memiliki praying room, sebaiknya ruangan itu dibuat netral, maksudnya bisa digunakan untuk agama apapun. Jadi, nggak bisa ada sajadah digelar di sana (yang mau shollat ya bawa sendiri), tidak ada salib dipasang di dinding, tidak ada kitab suci apapun di sana (atau setidak2nya semua barang2 yang religion-related disimpan dalam lemari tertentu). Just a room, functional, dedicated only to people doing their prayers. Ini bisa jadi exercise yang bagus buat menghargai perbedaan.

Kalo soal kekhusyukan dan faktor2 kenyamanan aku nggak bisa kasih opinion, cuma setau aku when we pray, keadaan apapun di sekeliling kita nggak boleh dijadikan alasan kita nggak khusyuk. :)

(Reply to this) (Thread)


[info]kangbayu
2004-07-15 03:55 am UTC (link)
Buat sholat bisa dimana saja, asalkan tempatnya bersih dan bebas najis, dan bukan tempat ibadah agama lain... Sementara itu walau bisa dilakukan dimana saja, justru karena di Indonesia penduduk muslimnya banyak, maka pada waktu sholat akan banyak orang yang sholat sehingga dibutuhkan ruang yang cukup besar.

Mengenai fasilitas serupa untuk agama lain, maka bisa dipertimbangkan seandainya memang diperlukan. Ide soal ruang ibadah serbaguna nya sebenarnya menarik, tapi kembali kepada kegunaan dan batasa... apakah ada agama lain yang membutuhkan ruang khusus dan frekuensi ibadah se-sering Islam sehingga harus difasilitasi di tempat umum juga? Dan apakah ibadah mereka membutuhkan tempat yang khusus atau batasan khusus juga?

Dan kalau melihat dari film2 Hollywood, "praying room" yang kamu maksud biasanya ditujukan buat kaum Nasrani, itupun biasanya hanya diadakan di tempat2 yang memang diperlukan untuk berdoa dengan khusyuk, itupun lebih pada kegunaan darurat, misalnya di Rumah Sakit. Karena setahu saya dalam Agama Nasrani tidak ada kewajiban untuk 'ibadah fisik' yang rutin selain dari pada hari Minggu dan hari-hari besar lainnya (Maap ini hanya pengamatan saya saja). Tapi however, ini pun menunjukkan bahwa pengelola gedung (atau lebih tepat lagi, pemerintah) tanggap terhadap kebutuhan pengunjung gedung tsb.

Sementara di Indonesia, walau bukan negara Islam, tapi secara statistik sebagian besar warganya beragama Islam... Jadi tidakkah aneh untuk suatu kegiatan yang dilakukan rutin oleh mayoritas penduduk, kebutuhan akan adanya tempat ibadah yang memadai masih dipandang sebelah mata?...

More on this later, thx so much for the input =)

Last,

Soal khusyuk memang itu tanggung jawab personal dan tidak bisa digantungkan pada keadaan lingkugan, namun alangkah baiknya kalau lingkungan pun mendukung untuk menciptakan kekhusukan ini. Misalnya pendeta-pendeta Budha yang membuat biara di tempat-tempat sepi seperti dipuncak gunung (film silat =), apakah mereka tidak memiliki kemampuan untuk khusuk? I don't think so, tapi mereka berusaha sebaik mungkin dan sebisa mungkin menciptakan lingkungan yang bisa menunjang kekhusukan tersebut.

(Reply to this) (Parent)(Thread)


[info]honeymantou
2004-07-15 06:38 am UTC (link)
Kupikir sih nggak sebelah mata, cuma memang karena tidak ada aturan yang membuatnya jadi 'penting' (yang mungkin juga karena ini masalah sensitif jadi kurang berani dibahas). Sepertinya hal2 berkaitan dengan agama masih diserahkan kepada institusi2 agama yang bersangkutan dan kalo untuk hal ini kepada pembuat/pemilik gedung. Yah, balik lagi deh, jadi masalah tata bangunan.

Soal khusyuk, mmm.... Bukankah yang kita bicarakan bukan tempat ibadah 'resmi'? I mean, bukan mesjid, biara, atau gereja? Kalau itu aku yakin memang dipilih tempatnya. But tempat yang kita omongin ini kan hanya seperberapa dari existing building. Maksudku, the most important thing is the ibadah itself, regardless where you're doing it and in what situation you're doing it, right? So, from my point of view, daripada menyayangkan dan menyesalkan keadaan yang ada, better make the most of what you've got. :)

Aku nggak tau persis apakah agama2 lain punya ibadah 'fisik' seperti Islam karena aku kurang ter-expose dengan agama2 dimaksud. Kalo Protestan sih berdoa bisa di mana aja, nggak butuh ruang khusus, kecuali memang ingin/membutuhkan privacy. Kegiatan2 yang bersama, misalnya persekutuan doa, kadang2 bisa diselenggarakan di ruang rapat/serbaguna kantor, selain di gereja. Btw, gerejaku tempatnya rame banget lho, di depannya ada RS, sebelahnya sekolah, dan sebelah satunya lagi tempat makan sop kambing. Hehehe... Dulunya sepi kali yeee... Kalo yang ini sih jadi tata kota judulnya... :D

(Reply to this) (Parent)(Thread)


[info]kangbayu
2004-07-16 12:45 am UTC (link)
Nah kalau soal paragraf kedua tulisan mu (soal tempat ibadah "non-resmi" dan esensi dari ibadahnya sendiri), then we're in the zone! =)

Karena kembali ke masalah utama, yang aku tanyain tuh lebih ke soal "decency", bukan semata-mata "availability". Memang kita ummat Muslim masih bisa sholat dengan fasilitas yang pas-pas an... Tapi rata-rata kita juga tahu bahwa fasilitas pas-pasan tsb. belumlah maksimal (di beberapa tempat malah sampai tidak manusiawi)...

Restroom bertahtakan marmer dengan ruangan yang luas, sementara untuk sholat cukup di tangga darurat? Not good... Untuk suatu kegiatan yang rutin dilakukan oleh sebagian besar tenant gedung )dan memiliki fungsi yang baik), mengapa tidak difasilitasi dengan serius?

Mungkin seperti diawal aku singgung, bahwa ini kembali kepada self-respect dari ummat Muslim sendiri yang kalau mau nonton require kursi yang empuk, protes kalau AC kurang dingin, protes kalau makanan terlalu asin, tapi nggak pernah protes kalau untuk urusan agama, mereka dinomorduakan...

Yes right, buat pengelola, kegiatan ini bukan suatu hal yang mendatangkan pemasukan secara langsung... tapi sama juga halnya dengan Restrooms (sori perbandingannya begini)... Lazimkah kalau kaum Muslim minta perlakuan yang lebih layak untuk kegiatan yang mereka lakukan rutin? I think so...

Dan kalau dilihat, sebenarnya sudah ada pengelola-pengelola gedung yang jeli dan tanggap akan adanya kebutuhan yang satu ini... namun secara global, belum...

(Reply to this) (Parent)


[info]ardian
2004-07-15 07:49 am UTC (link)
sekarang, terus terang saya ingin setiap bangunan yang besar punya fasilitas mushola. Tapi kalo saya jadi pengelola gedung (hampir gak mungkin), saya akan pertimbangkan tawaran untuk memberikan small space tersebut ke counter hp atau kios dvd.

(Reply to this) (Parent)(Thread)


[info]kangbayu
2004-07-16 12:02 am UTC (link)
Disini letak peranan pemerintah, mungkin dengan memberikan keringanan pajak, atau kompensasi lain. Masalah utama agaknya terletak pada soal ketidak-tanggapan pihak berwenang dalam mendeteksi tingginya kebutuhan yang satu ini 'ar...

(Reply to this) (Parent)(Thread)


[info]ardian
2004-07-16 01:26 am UTC (link)
benar juga kang. kalo sekali pemerintah ngeluarin peraturan "dalam tata ruang bangunan umum, harus terdapat fasilitas mushola, dengan konsekuensi....bla..bla...bla bagi yang melanggar"
sepertinya masalahnya langsung beres.

(Reply to this) (Parent)

setuj :)
[info]redscarlet
2004-07-15 03:33 am UTC (link)
i agree with lala.

come to think of it, kenapa harus khusus disebut mushalla ya?
mungkin karena kebiasaan, atau egoisme manusia,
yg karena ada kepentingan maka minta di fasilitasi.

kalo pertama denger, aku setuju dg adanya tempat sholat yg layak
tapi kalau di telaah dan denger masukan lala, aku lebih setuju lagi
prayer-room : tidak ada diskriminasi, tidak ada unsur sara, tidak egois, tidak memihak he..he... sekalian belajar toleransi ke agama lain biar tidak terjebak jadi ekstrim :D

peace

(Reply to this) (Thread)

Re: setuj :)
[info]ardian
2004-07-15 07:35 am UTC (link)
kalo gitu lebih baik buat aja lima praying room untuk masing2 agama, karena kayaknya kurang etis buat orang muslim yang sholat menghadap kiblat sementara di depannya ada altar.

piece

(Reply to this) (Parent)

Re: setuj :)
[info]fortheblossom
2004-07-15 07:55 pm UTC (link)
Dinamakan "Musholla" karena bangunannya lebih kecil dari "Mesjid". Bukan karena egoisme manusia. Mungkin seperti halnya "Chapel" untuk "Church" karena lebih kecil.
:)

(Reply to this) (Parent)

Re: setuj :)
[info]kangbayu
2004-07-16 12:19 am UTC (link)
Mushalla agaknya berarti "tempat sholat" 'ran, that's all...

Kepentingan memang dasarnya harus difasilitasi, seperti misalnya kalau kita perlu makan dan disediakan cafetaria atau food court? perlu buang aer dan butuh WC? =).

Soal musholla (atau tempat ibadah lain) identik dengan egoisme menurutku tidak lah... kecuali kalau Agama itu sendiri yang dianggap sebagai suatu bentuk egoisme, tapi itu dah melenceng jauh dari topik kita.

Soal "prayer room", kembali ke soal batasan, bagaimana pengaturan ruang nya, agar requirement masing2 Agama terpenuhi? Karena tentu nggada gunanaya kalau buat multi-religion prayer room tapi isinya saling bertentangan (atau saling dilarang) oleh agama lain. Pun nggada gunanya menyediakan sesuatu yang nggak akan dipakai (kembali kepada isyu soal requirements dan necessities dari masing2 Agama)

(Reply to this) (Parent)


Create an Account
Forgot your login or password?
Login w/ OpenID
English • Español • Deutsch • Русский…